Minggu, 03 November 2013

Sampai ketemu dipuncak kawan



Lama tak berjumpa kawan,

Bukan melupakan dan tidak ada yang terlupakan.

Kita telah memilih jalan yang sama menuju puncak untuk mengibarkan bendera kesuksesan.

Angkuh dan kesombongan seorang pendaki akan digilas oleh alam.

Tetap tawadu mengayungkan langkah kawan.

Jika kita berpisah ditengah perjalanan, lanjutkan saja perjalananmu kawan.

Jika kau tetap menungguku kau akan bosan menantiku.

Lanjutkan saja perjalananmu...... !!!!!!

Bukankah kita memiliki kompas yang akan mengarahkan langkah ini pada puncak yang sama?

Bukankah kita memiliki bendera yang sama untuk kita kibarkan pada puncak yang sama?

Semoga cuaca baik menyertai pendakian ini kawan.

Rahmatullah Andi Arno / Makassar, 03/09/2013 : 03.09 AM

Jumat, 01 November 2013

Puisi (Cahaya Bulan) - Nicholas Saputra


akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap
sambil membenarkan letak leher kemejaku

kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasih
lembah Mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin

apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra
lebih dekat
apakah kau masih akan berkata
ku dengar detak jantungmu

kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

cahaya bulan menusukku
dengan ribuan pertanyaan
yang takkan pernah ku tahu
dimana jawaban itu
bagai letusan berapi
bangunkan ku dari mimpi
sudah waktunya berdiri
mencari jawaban kegelisahan hati
Soe Hok Gie

Rabu, 30 Oktober 2013

Cinta VS Waktu

SETIAP "CINTA" PUNYA WAKTU
WAKTU BUKANLAH MILIK KITA
Imam As-suyuti berkata "CINTA ADALAH PERCAMPURAN
JIWA DENGAN JIWA
SEBAGAIMANA PENCAMPURAN AIR DENGAN AIR".
Jadi CINTAku HANYA MENUNGGU PEMILIK WAKTU MENYATUKAN JIWAKU DENGAN JIWANYA PADA WAKTU YANG TEPAT.

Selasa, 29 Oktober 2013

"Foya 19thn fadilah=fatin dillah "


Kencang sang waktu berlalu
Tak mampu di perlambat lajunya
Berjalan sesuai sunnahnya
Denting pergantian waktu malam ini
Tepat kau berusia 19 tahun
Tidaklah berupa bunga
Tidak pula sebuah boneka kesukaanmu
Hanya sebait puisi yang kutulis dengan pena harapan
Hanya seuntai doa yang kupanjatkan pada Tuhan
Semoga Tuhan senantiasa mengutus malaikatnya
Untuk menjaga dan menuntun langkahmu
Semoga langkahmu berkah
Agama untuk Tuhan untuk orang tuamu
Happy Birthday Ardilla mahrik 25 Oktober 1994

Rahmatullah Andi Arno / Makassar 25.10.13

Senin, 28 Oktober 2013

SUMPAH PEMUDAH


SOEMPAH POEMUDAH

SAYA PUTRA ORANG TUA SAYA MENGAKU BERTUMPAH DARAH SATU, 
DARI KEDUANYA.

SAYA PUTRA ORANG TUA SAYA MENGAKU BERBANGSA SATU, 
BANGSA PENGABDIAN.

SAYA PUTRA ORANG TUA SAYA MENJUNJUNG MARTABAT, 
MARTABAT KELUARGA.

SAYA PUTRA ORANG TUA SAYA BERJANJI AKAN SEGERA......

***SARJANA ***

Rahmatullah Andi Arno / Makassar 28 0ktober 2013

Minggu, 27 Oktober 2013

Puisi-puisiku akan tetap bercerita tentangmu (ayah)

   Puisi ini saya dedikasikan untuk ayahandaku tercinta, beliau telah wafat pada tangal 10 september 2013. Puisi ini saya tulis menjelang 40 hari kepergiaanya. Semoga dimudahkan jalannya. Aamiin... Terimah kasih ayah..., istri dan anak-anakmu akan berusaha ikhlas dengan semua ini, seakan begitu cepat. Namun inilah pembuktian dari Tuhan. Mungkin inilah cara Tuhan mentarbiah langsung keluargamu. Inilah pembuktian bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada akhirnya. Pembuktian bahwa tidak ada yang abadi kecuali diriNya. Dialah Maha Memiliki dan semua akan kembali padaNya.

Untukmu Ayah...




Menjelang 40 hari kepergianmu. Malam ini rindu menyeruak tanpa batas. Sementara puisi-puisiku tergeletak menangis menceritakan tentang satu kerinduan yang panjang. Sebab duka-duka puisiku lahir dari dukamu. Duka telah melahirkan kita menjadi makhluk terkapar dalam kesedihan.



Ku kenang tetesan keringatmu, kekar bahumu yang senantiasa menopang rumah tanggamu. Tak sedikitpun mimik lelah diwajahmu.

Selalu ku kenang .... !!!

Banyak yang harus ku kenang tentangmu, 24 tahun engkau mendidikku. Mulai cara berdiri, melangkah, berjalan hingga berlari.

Belum sempat aku menyembuhkan dukamu, engkau begitu tega meninggalkanku. Itu yang membuatku tertatih, berdiri pun ku tak mampu. Bagaimana aku mampu melangkah, berjalan hingga berlari seperti yang telah engkau ajarkan kepadaku ?

Kepergianmu adalah tarbiah berharga yang tidak kudapatkan di bangku sekolah. sebuah petanda bahwa tidak adanya keabadian di dunia ini.

Percayalah, ada selimut cinta yang mengharomonikan kisah dan masa depan di meja Tuhan. Bukankah kita akan memasuki ruang sidang Tuhan?. Semoga pintu-pintu ridho dibuka dan dicahayakn para malaikat, takdir akan menjelma aroma yang dinantikan. Akan kubentangkan sajadah panjang sebagai jembatan yang akan mempertemukan kita kelak.

Malam ini kucoba mengikhlaskan kepergianmu.
Sebab puisi-puisiku akan tetap bercerita tentangmu.

Rahmatullah Andi Arno / on oktober 2013

Syair Al Hallaj

Aku adalah Dia yang kucinta.
Dan Dia yang kucinta adalah aku.
Kami adalah dua  jiwa yang bertempat dalam satu tubuh.
Jika engkau lihat aku, engkau lihat Dia.
dan engkau lihat Dia, engkau lihat aku.

Maha suci zat yang sifat kemanusiaanNya.
Membukakan rahasia cahaya ketuhananNya yang gemilang.
Kemudian kelihatan baginya makhluNya.
Dengan nyata dalam bentuk manusia yang makan dan minum.

JiwaMu disatukan dengan jiwaku.
Sebagaimana anggur disatukan dengan air murni.
Jika sesuatu menyentuh engkau,
Ia menyentuhku pula
dan ketika itu dalam tiap hal engkau adalah aku.
Aku ada adalah rahasia yang Maha Benar,
dan bukanlah yang Maha Benar itu aku.
Aku hanya satu dari yang benar, maka bedakanlah antara kami

Sebelumnya tidak mendahuluinya, setelah tidak menyelaNya, daripada tidak bersaing dengan Dia dalam hal keterdahuluan, dia tidak mendiami Dia, kala tidak menghentikan Dia, jika tidak berunding dengan Dia, Atas tidak membayangi Dia, di bawah tidak menyangga dia, sebaliknya tidak menghadapiNya, dengan tidak menekan dia, dibalik tidak mengikat dia, didepan tidak membatasi dia, terdahulu tidak memari dia, dibelakang tidak membuat dia luruh, semua tidak menyatukan dia, ada tidak memunculkan dia, tidak ada tidak membuat Dia lenyap, penyembunyian tidak menyelubungi Dia, pra-eksistensi-Nya mendahului waktu, adanya Dia mendahului yang belum ada, kekalahanNya mendahului adanya batas.

Di dalam kemuliaan tiada aku,
atau engkau atau kita,
Aku, Kita, Engkau dan Dia seluruhnya menyatu