Senin, 27 Januari 2014

Agen perubahan “katanya”


Sebuah predikat yang di sandangkan pada pundak kalian.
Akankah kalian takut pada kematian.
Sebab kalian adalah kaum pada garda terdepan.
Untuk  sebuah perubahan.

Apakah kalian tidak malu dengan predikat kalian.
Kalian teriakkan kebersamaan .
Sementara diwaktu yang sama, kalian nodai dengan aksi tawuran.
Kalian teriakkan persaudaraan.
Sementara diwaktu yang sama, saling membunuh diantara kalian.
Sungguh miris rasanya menyaksikan.

Tri dharma perguruan tinggi adalah edentitas kalian.
Tiga kebaikan yang harus kalian tunaikan.
Lantas kenapa kalian hilang kepekaaan.
Mendengar dan menyaksikan mereka mati kelaparan.
Apakah kalian terlalu kenyang hingga ketiduran,
dan tak mampu lagi bangun membuat perubahan.

Darah juang harus terus berkumandang.
Alam pun bersaksi, akan sebuah perjuangan.
Sebab rakyat butuh pencerahan, dari kelamnya dunia perpolitikan.
Dimanakah kalian agen perubahan.
Apakah kalian ikut pada arus pembodohan.
Sungguh miris rasanya mendengarkan.

Darah juang harus terus berkumandang.
Sebab kalian adalah agen perubahan.
Turun kejalan adalah sebuah keharusan,
Lantang meneriakkan kata perlawanan,
Jika janji manis mereka telah di dustakan.
Bergerak satukan langkah KRITIS, BERKARYA pada ZONA KEBAIKAN.

Rahmatullah Andi Arno/ Makassar, 14.01.14

Jumat, 10 Januari 2014

Ayah aku Mohon Maaf


Dan pohon kemuning akan segera kutanam
Satu saat kelak dapat jadi peneduh
Meskipun hanya jasad bersemayam di sini
Biarkan aku tafakkur bila 
rindu kepadamu

Walau tak terucap aku sangat kehilangan
Sebahagian semangatku ada dalam doamu
Warisan yang kau tinggal petuah sederhana
Aku catat dalam jiwa dan coba kujalankan

Meskipun aku tak dapat menungguimu saat terakhir
Namun aku tak kecewa mendengar engkau berangkat
Dengan senyum dan ikhlas aku yakin kau cukup bawa bekal
Dan aku bangga jadi anakmu

Ayah aku berjanji akan aku kirimkan
Doa yang pernah engkau ajarkan kepadaku
Setiap sujud sembahyang engkau hadir terbayang
Tolong bimbinglah aku meskipun kau dari sana

Sesungguhnya aku menangis sangat lama
Namun aku pendam agar engkau berangkat dengan tenang
Sesungguhnyalah aku merasa belum cukup berbakti
Namun aku yakin engkau telah memaafkanku

Air hujan mengguyur sekujur kebumi
Kami yang ditinggalkan tabah dan tawakkal

Ayah aku mohon maaf atas keluputanku
Yang aku sengaja maupun tak kusengaja
Tolong padangi kami dengan sinarnya sorga
Teriring doa selamat jalan buatmu ayah tercinta

by@Ebiet_G_Ade

Sabtu, 04 Januari 2014

Kita akan tetap menjadi kau dan aku


Ada hasrat untuk menyapa
Meski kata tak tertata
Dalam lubuk hati bertanya
Akankah kau menjawab Tanya

Sering kita duduk pada ruang yang sama
Sesering itu pula mulut bungkam tanpa kata
Saling berhadapan, tanpa mampu bertemu mata
Terdiam beribu kata

Beranjak dan saling memunggungi
Namu tetap menyimpan harap dalam hati
Berharap bertemu kembali
Sebab aku menyimpan cinta yang tak bertepi

Tidak ada janji untuk menunggu
Tidak pernah meminta keharusan untuk bertemu
Mungkin rasa ini tetaplah terbelenggu
Sebab kita akan tetap menjadi kau dan aku

Rahmatullah Andi Arno / Makassar, 04.01.14